Selasa, 09 Maret 2010

Filsafat Pendidikan Paulo Freire


FILSAFAT PENDIDIKAN PAULO FREIRE
Konsep Freire tentang pendidikan bertolak dari kenyataan bahwa dunia ini ada sebagian manusia yang menderita sedemikian rupa sementara sebagian lainnya menikmati jerih payah orang lain justru dengan cara-cara yang tidak adil. Ini yang disebut oleh Freire sebagai “situasi penindasan” yang menafikan harkat kemanusiaan atau dehumanisasi (Russ Dilts dkk, P3M: 1990). Untuk itulah bagi Freire pendidikan haruslah mampu memanusiakan manusia (humanisasi) sebagaia sesuatu yang mutlak dilakukan. Humanisasi merupakan satu-satu pilihan dalam pendidikan karena hal ini sesuai dengan jalan fitrah kemanusiaan. Bagi Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subjek, bukan penderita atau objek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar. Manusia adalah penguasa bagi dirinya sendiri, merdeka dan menjadi bebas. Karenanya pendidikan adalah upaya untuk melakukan pemerdekaan dan pembebasan manusia dari segala bentuk ketertindasan. Inilah tujuan akhir dari upaya humanisasinya Freire. Proses humanisasi dalam pendidikan haruslah melibatkan tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektik yang ajeg, yaitu :
1.    Pengajar
2.    Pelajar atau peserta didik
3.    Realitas dunia
Yang pertama dan kedua adalah subjek yang sadar (cognitive), sementara yang ketiga adalah objek yang tersadari atau disadari (cognizable). Hubungan dialektis ketiga unsur harus terjadi secara simultan dalam sebuah proses pendidikan. Hubungan dialektik ini mensyaratkan pola hubungan yang sejajar dan setara, tidak boleh ada suatu pihak yang lebih dominan dan superior dibandingkan dengan yang lain. Semua pihak memiliki hak yang sama untuk mengapresiasikan dirinya. Jadi, pendidikan mestilah memberi keleluasaan bagi setiap orang untuk mengatakan kata-katanya sendiri, bukan kata-kata orang lain. Murid harus diberi kesempatan untuk mengatakan kata-katanya sendiri, bukan kata-kaa sang guru. Untuk itulah pendidikan haruslah memberikan ruang bagi sharing pengalaman bagi setiap anggota pembelajar terasuk dalam hal ini pelajar maupun pengajar dalam merefleksikan dan memaknai realitas dunianya.
Namun dalam realitasnya sistem pendidikan yang berkembang selama ini kurang memberikan ruang bagi proses dialektik ketiga unsur tersebut dan cenderung memberikan ruang dominansi yang sangat besar dan jarak hubungan antar ketiga unsur yang sangat lebar dan semakin jauh. Untuk itu perlu upaya menghubungkan ketiga unsur ini secara sistematis dan hal ini baru dapat diwujudkan dalam sebuah desain model pendidikan yang mampu memberdayaan dan menyadarkan yaitu melalui pelatihan (training). Model pendidikan seperti ini dipahami sebagai model pendidikan yang tepat bagi orang dewasa. Karena orang dewasa diasumsikan sebagai orang yang bertindak secara sadar, bertanggung jawab.
PENGERTIAN TRAINING
Pengertian training menurut Michael J. Jacius adalah setiap proses dalam mengembangkan bakat, keterampilan dan kemampuan pegawai agar dapat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Training adalah sarana modern untuk mendapatkan sikap-sikap baru yang diperlukan seorang individu. Walaupun pengajaran itu memiliki kemampuan untuk menambah informasi dan mengubah orientasi, akan tetapi training merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan skill dan pengalaman, untuk mengembangkan kemampuan dan meningkatkan profesionalitas.
Pelatihan lebih menitik beratkan pada psikomotorik maksudnya lebih menekankan pada pengasahan atau pengembangan keterampilan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. training adalah sebuah pendekatan dalam merubah perilaku seseorang. training cenderung memberikan penekanan pada bagaimana membangun sebuah kebiasaan baru (build the habits)

Senin, 08 Maret 2010

Kumpulan GBPP Akh. Muwafik Saleh

Informasi bagi para mahasiswa Universitas Brawijaya yang mengambil mata kuliah dengan dosen pengampu Akh Muwafik, S.Sos, M.Si, antara lain :
1. Dasar-dasar Public Relations
2. Manajemen Public Relations

3. Komunikasi Organisasi
4. External Relations
5. Manajemen Training dan konsultasi SDM
6. Kapita selekta kewirausahaan

dapat mendownload GBPP (garis besar program pengajaran) di : http://www.slideshare.net/muwafik
semoga bermanfaat

Sinopsis Buku Public Service Communications

SYNOPSIS BUKU PUBLIC SERVICE COMMUNICATION


Senin, 28 Desember 2009

KAP 5/6 : Message and Meaning

PESAN DAN MAKNA
Oleh : Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si

 MAKNA (MEANING)
MEANING :
Is an active process created in cooperation between source and receiver, speaker and listener, writer and reader.
 SIFAT-SIFAT MAKNA
1. MEANING ARE IN PEOPLE
2. MEANING ARE MORE THAN WORDS & GESTURES
3. MEANING ARE UNIQUE
4. MEANING ARE CONTEXT-BASED
 MEANING ARE IN PEOPLE
Jelek -1-:-2-:-3-:-4-:-5-: -6-:-7-:-8-:-9-:-10- Cantik
 MEANING ARE MORE THAN WORDS & GESTURES
 MEANING ARE UNIQUE
 Satu pesan beragam makna
 Dapat dipengaruhi oleh suasana, perasaan, derajat pikiran komunikan yang berbeda-beda pada setiap orang.
 Begitu pula dipengaruhi oleh pengalaman, referensi, kebiasaan, keinginan dari setiap orang.
 MEANING ARE CONTEXT-BASED
 Makna dipengaruhi oleh konteks yang berbeda dalam situasi yang berbeda
 Contoh :
“bagaimana kabarmu” --- (dijalan : halo) , (dirumah sakit : kesehatan)
“kedipan mata” dari lk-pr (dijalan : rayuan ; bertiga : isyarat/penunjuk)
“cibiran” (pujian, hinaan)
 KOMPONEN PESAN
1. MAKNA
2. SYMBOL
3. ORGANISASI PESAN
 KARAKTERISTIK PESAN
1. MESSAGES ARE PACKAGED
2. MESSAGES ARE RULE-GOVERNED
3. MESSAGES VARY IN ABSTRACTION
4. MESSAGES VARY IN POLITENESS
5. MESSAGES VARY IN INCLUSION
6. MESSAGES VARY IN DIRECTNESS
7. MESSAGES VARY IN ASSERTIVENESS
 1. MESSAGES ARE PACKAGED
 Pengemasan pesan tidaklah semata sebuah kebiasaan saja melainkan peristiwa untuk mengkemas pesan dalam berbagai tingkat kesengajaan.
 Dalam beragam situasi emosi, pesan yang anda produksi dan tampilkan melibatkan seluruh aspek yang mendukung perasaan anda tsb, mis : suara, mata, tangan, mimik wajah dsb.
 2. MESSAGES ARE RULE-GOVERNED
 Setiap pesan selalu terbangun diatas aturan.
 Pesan diatur oleh sistem nilai, norma yang berkembang.
 Produksi pesan adalah sebuah hasil dari proses belajar, baik dari budaya, observasi (verbal / non verbal)
 Prinsip komunikasi : melibatkan prediksi peserta komunikasi
 3. MESSAGES VARY IN ABSTRACTION
 Pesan memiliki abstraksi (wujud) makna yang berbeda-beda berdasar kesan (image) yang berbeda atas suatu pesan tsb.
 Abstraksi tersebut dapat berdasar pada fokus yang berbeda, pengalaman maupun kesukaan masing-masing individu, hal ini memberikan kesan yang berbeda-beda pada suatu pesan yang disampaikan.
 4. MESSAGES VARY IN POLITENESS
 Nilai kesopanan lahir dari pengalaman dan nilai budaya yang berbeda-beda
 Nilai-nilai kesopanan memiliki wujud dan bentuk yang berbeda dalam setiap budaya.
 Namun, terdapat beberapa hal yang mungkin dapat dikatakan berlaku universal dan sebagian lain lokal. Atau memiliki nilai universal namun dengan wujud yang berbeda. Mis : “bagus” namun wujud pengungkapan berbeda. “sopan” (jepang = nunduk, jawa = tangan di depan, dsb )
 Termasuk cara berkomunikasi antar level sosial, gender dsb.
 Etika / tata cara dalam pengungkapan pesan (netiquette) merupakan salah satu bagian dalam kesopanan, misal : etika dalam ber-komputer dan menjadi sebuah sistem didalam nya. Mis : sebelum anda menutup komputer anda perlu melakukan shotdown terlebih dahulu.
 5. MESSAGES VARY IN INCLUSION
 Suatu pesan adalah menjadi bagian dalam diri seseorang,
 Terdapat beberapa pesan yang secara tidak sadar merupakan bahasa inklusif yang hanya dipahami oleh masing-masing pribadi / suatu kelompok (in-group)
 Dalam komunikasi dan produksi pesan terdapat pesan (bahasa) inklusif & eksklusif (bahasa yang dipakai dan berlaku secara universal)
 Inklusion dapat terlihat dalam bahasa : in-group, tidak disengaja,
 6. MESSAGES VARY IN DIRECTNESS
 Pesan berada dalam beragam tingkat kelangsungan tertentu (langsung – tidak langsung). mis : tuch telponnya bunyi --- tolong jawab telponnya. Disini dingin ya.. --- mau pinjam jaketnya dong.
 Kelangsungan tertentu dari suatu pesan memiliki tingkat keuntungan dan kerugian yang berbeda.
 Keuntungan langsung : lebih jelas, mudah direspon, meminimalkan kesalahan interpretasi.
 Keuntungan tidak langsung : alasan menjaga kesopanan, untuk tidak menyinggung perasaan (saat menghina/kritik), mis : audience lihat jam saat pidato berlangsung,
 Kerugian tidak langsung : mis-interpretasi, tidak terpenuhinya maksud/tujuan komunikator.
 Sindiran lebih baik dipergunakan dalam mengkritik orang lain.
 Pesan sindiran, bukanlah menunjukkan kelemahan (power), melainkan sebuah strategi/ style untuk mempengaruhi orang lain.
 Indirect dipergunakan saat :
 Untuk menunjukkan kelemahan
 Mengungkapkan masalah
 Mengakui kesalahan
 Direct / indirect dipengaruhi oleh :
 Budaya
 Self disclosure / style
 Strategi efektifitas
 7. MESSAGES VARY IN ASSERTIVENESS
 Produksi pesan berada dalam beragam ketegasan.
 Ketegasan pesan seringkali dipergunakan untuk menunjukkan ketidaksepakatan pada orang yang mungkin tidak anda suka, lebih yunior, dianggap berada di level bawah dirinya.
 Ketidaktegasan pesan (non-assertiveness) atau pesan permisif, cenderung dilakukan terhadap orang yang dekat, keluarga, orang yang disuka, senior, “lebih” dibandingkan anda, sungkan dsb.
 Bentuk assertiveness :
 Volume suara
 Nada pesan
 Sikap & bahasa tubuh dalam penyampaian pesan

KAP 8 : Non Verbal Message

NON VERBAL MESSAGES
Oleh : Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si

• FUNGSI KOMUNIKASI NON VERBAL
1. UNTUK MENEKANKAN
2. UNTUK MELENGKAPI (COMPLEMENT)
3. UNTUK MENUNJUKKAN KONTRADIKSI
4. UNTUK MENGATUR
5. UNTUK MENGULANGI
6. UNTUK MENGGANTIKAN
• NON VERBAL MESSAGES
1. BODY COMMUNICATION
2. FACIAL COMMUNICATION
3. EYE COMMUNICATION
4. TOUCH COMMUNICATION
5. PARALANGUAGE AND SILENCE
6. SPATIAL MESSAGE’
7. ARTIFACTUAL COMMUNICATION
8. TEMPORAL COMMUNICATION
• 1. BODY COMMUNICATION
1. BODY GESTURES
2. BODY APPEARANCE
• BODY GESTURES
• BODY APPEARANCE
• Appearance citra diri
• Tampilan fisik. Mis : tinggi badan, warna kulit, warna rambut dsb.
• 2. FACIAL COMMUNICATION
FACTOR INFLUENCING FACIAL EXPRESSION :
1. EMOTIONS
2. CULTURE
• FACIAL MANAGEMENT
• FACIAL FEEDBACK
• FACIAL FEEDBACK HYPOTHESIS :
– Bhw ekspresi muka seseorang dpt mempengaruhi psikologis seseorang.
– Barang siapa yang merasakan dan mengekspresikan emosi menjadi lebih cepat emosional dr seseorang yang hanya merasakan emosi saja.
– Ekspresi muka tidak hanya mempengaruhi penilaian dan kesan orang lain thd diri kita sendiri tetapi dpt mempengaruhi tingkat emosi.
• 3. EYE COMMUNICATION
• Pesan yang dikomunikasikan dg mata bergantung durasi, kelangsungan dan kualitas gerak mata.
• Kontak mata dipengaruhi oeh budaya (mis : AS-Jepang-Indonesia)
• Beberapa Aspek :
1. Eye Contact
2. Eye avoidance
3. Pupil Dilation
• Eye Contact
• Fungsi penting :
– To Monitor feedback
– To secure the attention & interest of your listener
– Regulate or control the conversation
– Signal the nature of the relationship
– To compensate for increased physical distance
• Eye Avoidance
• Beberapa kemungkinan pengalihan pandangan :
– Memberi kesempatan untuk menjaga privacy-nya (civil attention, mnrt : Goffman) : tdk menaruh perhatian pd urusan orang lain.
– Indikasi kurangnya perhatian/ketertarikan pd seseorang/percakapan atau stimulus visual. Mis saat melihat kecelakaan.
– Pengalihan (menutup mata) untuk mempertajam indera yg lain (saat dengar suara/lagu)
• Pupil Dilation
• Pembesaran pupil : dipengaruhi emosi/ketertarikan pd sesuatu.
• Wanita dg pupil yg kecil = dingin, judes, sinis, egois.
• Wanita dg pupil yg besar = feminim, lembut
• Kosmetik ?
• 4. TOUCH COMMUNICATION
The meaning of touch :
1. Positive emotionà kedekatan hubungan
2. Playfulness à bercanda, meramaikan pembicaraan
3. Control the behaviorsà dominasi
4. Ritualisticà salam atau kebiasaan
5. Task related à Berkenaan dengan tugas
• Penghindaran Sentuhan
• Ketakutan komunikasi
• Pengungkapan diri yang rendah
• Kecenderungan hubungan dengan lawan jenis
Perbedaan Gender
• Perempuan dan laki-laki punya kecenderungan sentuhan yang berbeda
• Perempuan dinilai melakukan lebih sering sentuhan kepada lawan jenis dan sama jenis
Perbedaan Budaya
• Budaya di daerah tertentu mengadopsi makna dan interpretasi berbeda terhadap sentuhan
• Contact cultures >< noncontact cultures
• Paralanguage and Silence
 Paralanguage cenderung menunjuk pada cara seseorang mengatakan sesuatu daripada apa yang dikatakan.
 Beberapa aspek paralanguage adalah sebagai berikut:
• Penekanan (stress) pada kata-kata tertentu dalam kalimat.
• Kecepatan bicara (rate)
• Keras lemahnya suara(volume)
• Tinggi rendahnya suara (pitch)
• Vokalisasi ketika tertawa, mengerang, rengekan, dll.
• Kombinasi suara yang bukan kata (uh-uh, shh).
• Diam
• Memberi waktu untuk berpikir dan mengatur apa yang mau dibicarakan
• Senjata untuk menyakiti lawan bicara
• Respon atas kegelisahan pribadi
• Menghindari komunikasi
• Mengkomunikasikan respon emosional
• Mendapat efek khusus
• Giving Space
 Proxemics : study of a person’s use of space à the way people use space in their conversations as well as perceptions of another’s use of space
 Personal space : an invisible, variable volume of space surrounding an individual which define that individual’s preferred distance from others


personal space social space public space
0-8 in. 18 in. – 4ft 4 - 12ft 12ft +
• The “It” Factors
• Teori tentang Jarak
• Protection theory (Teori Perlindungan) : seseorang mendirikan jarak aman di sekitarnya sebagai perlindungan atas sentuhan atau serangan yang tidak diinginkan.
• Equilibrium theory (Teori equilibrium) : semakin besar tingkat keintiman, semakin dekat jarak antara yang satu dengan yang lain. Semakin kecil tingkat keintiman, semakin jauh jarak antara yang satu dengan yang lain.
• Expectancy violation theory (Teori pelanggaran harapan) : setiap orang memiliki harapan tertentu dengan jarak yang ingin dicipta dalam interaksi
• Territoriality
a person’s ownership of an area or object
* frequently accompanied by prevention and reaction
Three types of territories :
 Primary territories, signal an individual’s exclusive domain
 Secondary territories, signal some sort of personal connection to an area or object
 Public terriories, no personal affiliations and include those areas that are open to the public.
• Pelanggaran Wilayah
• TEMPORAL COMMUNICATION
1. Waktu Kultural
• Teknis, formal, informal
2. Waktu Psikologis
3. Waktu dan Status