Selasa, 03 Februari 2009

Ujian Susulan PSC

UJIAN SUSULAN MATA KULIAH PSC 2008

1. Cobalah anda analisa tentang bagaimana pelaksanaan public service communication pada institusi pemerintah dan bedakan dengan corporate.
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi pelaksanaan PSC pada kedua institusi tersebut.
3. Jelaskan relevansi kajian PSC dengan PR.

Tugas ini anda harus anda selesaikan selama 1 hari dan dikirm ke blog ini.

Muwafik, 3 Pebruari 2009

2 komentar:

  1. Pada dasarnya fokus kajian public service communication, selanjutnya saya singkat PSC pada organisasi maupun corporate sama, hanya ada beberapa perbedaan sasaran kerja saja, sebagai contohnya, dalam pemerintahan yang menjadi perhatian PSC adalah masalah kepuasan masyarakat terhadap pelayanan, masalah manajemen komplain yang berkulaitas, budaya dan mental kerja, penataan ruang yang mencerminkan kesan dari lembaga, apakah mereka tebuka, ataukah cenderung menghindari adanya komplain atau masalah, hal ini dapat dilihat dari bagaimana mereka secara kesadaran penuh dan bertanggung jawab menyediakan fasilitas untuk public melakukan komplain serta PSC memberi perhatian pada bagaimana SOP dan system yang bekerja pada pemerintahan yang disepakati bersama agar tidak terjai ketimpangan ataupun timpang tindih dan “ ping pong “ dalam menangani keluhan. Hal ini pada pemerintahan belum berjalan dengan baik karena SDM yang kurang berkualitas, kurangnya training manajemen PR dan PSC pada individu individu pemerintahan. Pada pemerintahan juga jarang, jika tidak bisa dikatakan belum adanya konsep Good Governance yang menggunakan assesmen sebgai bagian dari seleksi SDM paa pemerinthan yang selama ini hanya mengandalkan CPNS semata…

    Pada pemerintahan, hal hal yang berkaitan dengan PSC kurang berjalan, tentunya dapat dipahami alas an utama adalah pola pikir yang belum menyentuh “ public oriented “ dimana kalangan pemerintahan yang masih merasa bahwa masyarakat mau tidak mau akan memilih berurusan dengan mereka walaupun pelayanan mereka ala kadarnya memperparah mental dan budaya kerja mereka, masih banyak terjadi pegawai yang membolos atau istirahat dan pulang lebih awal saat kehadiran mereka benar benar dibutuhkan. Bahkan saya sering mengalami bagaimana saat saya berurusan dengan lembaga pemerintah, mereka yang merasa sudah waktunya istirahat tidak mau melayani saya ataupun sekedar menunjukkan kemana saya harus melapor atau berurusan. Mereka merasa bahwa public harus menunggu jika memang oknum yang dibutuhkan sedang beristirahat, bahkan terjadi saling lempar…


    Sikap yang tidak simpatik membuat public, termsuk saya merasa malas mengajukan komplain karena secara bargaining power, mereka tentu lebih kuat ari public, bayangkan saja jika kita mengomel atau mengeluh dan mengkritik mereka, yang terjadi urusan kita akan semakin panjang dan ruwet, sehingga kebanyakan masyarakat lebih memilih “ ngempet “ asal urusan cepat selesai.


    Jika kita bicara tentang komunikasi maka hal ini tidak dapat dipisahkan dari simbol-simbol dalam interaksi organisasi dimana hal ini menekankan pada bagaimana perilaku atau tindak komunikasi yang berlangsung dan ditampilkan dalam organisasi (baik verbal, non verbal termasuk penampilan fisik seperti pakaian, warna, letak, suasana dan konsep/nilai) mencipta makna dan budaya dalam organisasi.

    Suasana yang membosankan, warna dinding, penataan ruangan yang apa adanya, berkas berkas yang bertumpuk tidak karuan, saya rasa ikut mempengaruhi suasana hati manusia yang ada di dalamnya, sehingga saya pun pada dasarnya tidak heran jika mereka setelah bertahun tahun bekerja dengan ruangan, situasi kondisi dan rutinitas yang sama, akan bahagia dan tidak sabar menanti jam pulang atau istirahat nya.

    Bisa dilihat dari ekspresi mereka saat keluar dari ruangan atau gerbang kantornya yang selolah olah baru keluar dari penjara, bernafas lega, sambil mullet… hal ini nampak sangat sepele, namun tidak sepatutnya diremehkan oleh seorang PR yang baik karena kemampuan pemerintah dalam mencapai tiap tiap tujuannya bergantung pada etos, motivasi, suasana kondusif, budaya kerja, kedisiplinan SDMnya.

    Diantara beberapa fungsi PR dalam masalah PSC yang belum dipenuhi oleh lembaga lembaga pemerintah adalah

    Menangani hubungan antara organisasi dan masyarakatnya agar pelayanan yang diberikan benar benar berbasis public ekspektation oriented, dan bukan sekedar memberikan laporan bahwa kewajibannya terselesaikan, namun jga belajar bekerja dengan hati seperti yang bapak ajarkan dalam buku bapak.

    Memantau kesadaran, pendapat, sikap dan perilaku di dalam dan di luar organisasi seperti yang di awal saya jelaskan bahwa dengan system yang tertata dengan baik dalam PSC, maka kita dapat memantau bagaimana keluhan dan pendapat masyarakat tentang pelayanan, bagaimana sikap dan perilaku pegawai berkaitan dengan kedisplinan mereka, bagaimana mereka menyikapi kritik dan komentar yang menyakitkan saat mereka berada pada rush hour, saat overload dan saat mereka memasuki jam lelah.

    Menganalisa dampak kebijaksanaan, prosedur dan tindakan terhadap masyarakat dimana lembaga pemerintah belum mampu membuat dan menerapkan serta mengontrol aplikasi dari prosedur dan efeknya, tidak seperti halnya corporate, lembaga pemerintah belum mampu mengkaji dampak kebijakan mereka, tidak memiliki standar control untuk mengetahui adanya kesalahan pengoperasian di lapangan serta bagaiman masyarakat bertinak dan beropini terhadap ketidakpuasan mereka.

    Membentuk dan mengelola komunikasi dua arah antara organisasi dan masyarakatnya dapat dilakukan melalui manajemen komplain yang berkualitas dan atas dasar empati, serta melalui penataan ruang yang sarat dengan filosofi terentu sehingga tanpa bertanya, masyarakat memahami bagaimana lembaga tersebut bekerja.


    Untuk factor factor yang mempengaruhi pelaksanan PSC pada pemerintah dan corporate sebenarnya tidak jauh berbeda diantara keduanya, seperti yang saya jelaskan di atas…

    Factor factor tersebut mencakup SDM dalam tubuh pemerintahan atapun corporate, bukan hanya SDM pelaksana, namun SDm yang bertugas sebagai controller,auditor, unit penjaminan mutu pelayanan dsb. Suasana yang kondusif, termasuk suasana ruangan, iklim kerja dan hubungan antar divisi, antar karyawan sangat mempengaruhi bagaimana perilaku mereka, seorang PR yang baik harus membawa iklim yang baik pula, harus memahamai bagaimana pola pikir dan budaya tempat karyawannya hidup di luar organisasi sehingga bisa memfilter kebiasaan buruk yang akan berpengaruh pada kinerja lembaga ataupun perusahaan secara menyeluruh.

    Kajian PSC sangat berhubungan dengan PR karena seperti yang dipahami, bahwa PR berhubungan erat dengan pencitraan atau manajemen kesan yang mana prosesnya akan berhubungan langsung dengan pelayanan, manajemen komplain dsb… karena saya mendefinisikan pada dasarnya keluhan, kritik, komplain adalah ekspresi atau ungkapan ketidakpuasan kekecewaan masyarakat atau customer terhadap tidak terpenuhinya ekspektasi akan pelayanan dari perusahaan atau lembaga terkait.

    Pelayanan dan komplain yang tidak ditanggapai seara serius akan melahirkan bibit bibit krisis pada lembaga ataupun perusahaan tersebut. Kajian PR tentunya membahas bagaimana hal tersebut tidak terjadi dan bagaimana siklus krisis mampu dipotong sebelum merusak elemen penting perusahaan atau lembaga

    BalasHapus
  2. yang diatas ini adalah jawaban saya pak... selain itu pak, adanay budaya pemusatan kebijakan dari lembaga pemerintah membuat cabang cabang tidak bisa seadaptif dan sefleksibel mungkin menghadapi perubahan lingkungan pak...


    saya katakan begini karena jika ingin merubah struktur atau SOP dari lembaga pemerintah macam pemkot dsb itu kita lebih efektif jika yang dijadikan sasaran adalah pusatnya, setelah diaplikasikan oleh pusat, baru pusat akan mengintruksikan diadakannya pelatihan tentang perubahan yang terjadi kepada cabang cabangnya....



    sedang pada corporate pake, mereka memiliki hidup dan mati dari masyarakat, dari pelanggan, otomatis, mereka dituntut secepat mungkin menanggapi informasi yang beredar, bahkan bila perlu melakukan perubahan untuk mengcounter lingkungan. kita bisa ambil contoh pada Mc'D yang di indonesia memberikan nasi yang tidak ada di negara lain, tentunya ini karena Mc'D sendiri menyadari adanya perbedaan budaya, dalam hal ini pola makan rakyat kita pak....

    BalasHapus